POLITIK BUDAYA KESEHARIAN INDONESIA KONTEMPORER DALAM LENSA MEDIA

Wahyudi Akmaliah

Abstract

Pada tahun 2014 dan awal 2015 ini ada tiga hal penting yang terjadi dan muncul dalam ruang publik Indonesia yang mewarnai aktivitas sosial masyarakat. Aktivitas inilah yang secara tidak langsung memberikan kontribusi dalam membentuk wajah Indonesia pascarezim Orde Baru. Pertama, munculnya penyanyi Fatin Shidqia sebagai ikon perempuan muslim berjilbab, memenangkan kontes Indonesia X Factor. Indah Nevertari, perempuan muda berjilbab asal Medan yang kemudian menyusul sebagai pemenang kontes menyanyi the Raising Star Indonesia (Akmaliah, 2014). Kedua, terpilihnya Basuki Tjahaja Purnama, biasa dipanggil Ahok, menjadi orang Tionghoa pertama dalam sepanjang sejarah Indonesia menjadi gubernur setelah menggantikan Joko Widodo yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia. Ketiga, munculnya film-film islami yang diadaptasi dari buku, khususnya dengan latar belakang luar negeri yang memvisualisasikan pengalaman muslim Indonesia di negara mayoritas nonmuslim dan sekuler, seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Haji Backpacker dan Assalamualaikum Beijing! Pada era rezim Orde Baru, ketiga hal tersebut relatif tidak terjadi. Selain cengkeraman otoriter dengan sistem panopticon yang diterapkan, rezim Orde Baru masih menganggap bahwa Islam adalah ancaman berbahaya kedua setelah komunis (baca: PKI)

Full Text:

PDF

References

Akmaliah, Wahyudi. (2014). “When ulama support a pop singer: Fatin Shidqia and Islamic popular culture discourse in the Post of Suharto regime”. Paper has been presented on The Seventh AlJami’ah Forum: “Religious authority, piety and activism: Ulama in contemporary muslim societies”, Islamic State University of Sunan Kalijaga, 28–30 November 2014.

Anonim. (18 Desember 2014). Penggeruduk Film senyap di UGM sembunyikan wajah. Dikutip pada 6 Januari 2015, dari http://www.tempo.co/read/ news/2014/12/18/058629335/PenggerudukFilm-Senyap-di-UGM-Sembunyikan-Wajah.

______. (24 Desember 2014). Polisi larang pemutaran film senyap di Padang. Dikutip pada 2 Januari 2015, dari http://www.tempo.co/read/ news/2014/12/24/078630755/Polisi-LarangPemutaran-Film-Senyap-di-Padang.

______. (11 Desember 2014). Universitas Brawijaya Malang larang pemutaran film senyap”. Dikutip pada 2 Januari 2015 dari http://news. liputan6.com/read/2145749/universitas-brawijaya-malang-larang-pemutaran-film-senyap.

Bambang Arifianto. (5 Januari 2015). Komnas HAM pertanyakan pelarangan film senyap. Dikutip pada 15 Januari 2015, dari http://www.pikiranrakyat.com/node/311016.

Bruinessen, Martin Van (Ed). (2013). Contemporary developments in Indonesian Islam, explaining the “conservative turn”, Singapura: ISEAS.

Darmawan, Hikmat. (26 Maret 2014). 99 Cahaya di Langit Eropa 1 & 2: Imajinasi Islam dalam nalar kekalahan, dalam Film Indonesia. Dikutip pada 17 Januari 2014 dari http://filmindonesia.or.id/article/99-cahaya-di-langit-eropa1-2-imajinasi-islam-dalam-nalar-kekalahan#. VPUZxnysX7c.

Farid, Hilmar. (2007). Indonesia’s original sin: Mass killings and capitalist expansion, 1965–66, dalam Kuan-Hsing Chen dan Chua Beng Huat (ed), The Inter-Asia Cultural Studies Reader, New York: Routledge

Farid, Hilmar. (7 Oktober 2010). Keadilan bagi Timor Leste prasyarat demokrasi di Indonesia. Makalah disampaikan dalam peluncuran buku Chega! di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Dikutip pada 10 Juli, 2013 dari http://www. scribd.com/doc/39001922/Chega

Farid, Hilmar. (15 Juli 2013). Warisan kunci politik orde baru adalah kemiskinan imajinasi politik, sosial, dan kultural!, Wawancara dilakukan oleh Fildzah Izzati dalam Jurnal Indoprogress (online), edisi XII, 15 Juli 2013. Dikutip pada 20 Juli 2013, dari http://indoprogress.com/ lbr/?p=1364

Hefner, Robert W. (1993). Civil Islam: Muslim and democratization in Indonesia, Princenton, NJ: Princenton Press.

Heryanto, Ariel. (2006). State terrorism and political identity in Indonesia: Fatally belonging, London and New York: Routledge.

______. (2012). Film, teror negara, dan luka bangsa, Liputan Khusus Tempo: Pengakuan Algojo, edisi 1–7 Oktober, 2012.

______. (2014). Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture. Nus Press dan Kyoto University Press.

Ricklefs, MC. (2012). Islamitation and its opponents in Java: A political, social, cultural, and religious history, c. 1930 to Present. Singapura: NUS Press.

Roosa, John, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid. (2004). “Sejarah lisan dan ingatan sosial”. Dalam Roosa, John, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid (ed), Tahun yang tak pernah berakhir, memahami pengalaman korban 65: Esai-esai sejarah lisan, Jakarta: ELSAM, TIM Relawan untuk Kemanusiaan, dan Institute Sejarah Sosial Indonesia.

Copyright (c) 2016 Masyarakat Indonesia

Refbacks

  • There are currently no refbacks.